Kamis, 02 Februari 2017

Diagram Sankey, Diagram Scatter, dan Steeped Area Chart


Bab 2

Diagram Sankey, Diagram Scatter, dan Steeped Area Chart

Diagram Sankey






1.1.1 Sejarah Diagram Sankey








1.1.2 Langkah Pembuatan Diagram Sankey


  1. Input dari kiri diagram
  2. Output yang dicari berada disebelah kanan
  3. Semua yang tidak diinginkan (terbuang) output dibuat panah vertikal ke bawah.



1.1.3 Tujuan Penggunaan Diagram Sankey

1.1.4 Fungsi Diagram Sankey

Diagram Scatter






1.2.1 Sejarah Diagram Scatter


1.2.2 Pola Diagram Scatter


  1. Pola Positif Diagram Scatter
  2. Pola Negatif Diagram Scatter
  3. Pola Tidak Memiliki Hubungan (Tidak Berkorelasi)


1.2.3 Tujuan Penggunaan Diagram Scatter


1.2.4 Fungsi Diagram Scatter


  1. Menguji seberapa kuat hubungan antara dua variabel (misalnya, hubungan antara biaya iklan dengan penjualan, lama pengalaman dengan kinerja karyawan, dll).
  2. Memastikan ”firasat” akan hubungan sebab-akibat langsung antara jenis-jenis variabel.
  3. Menentukan jenis hubungan (positif, negatif, dll).

1.2.5 Manfaat Diagram Scatter




  1. Hubungan penyebab dan akibatnya
  2. Hubungan antara satu penyebab dengan penyebab lainnya
  3. Hubungan antara satu penyebab dengan dua penyebab

1.2.6 Langkah Pembuatan Diagram Scatter


  1. Kumpulkan pasangan data (x, y) yang akan dipelajari hubungannya serta susunlah data itu dalam tabel. Diperlukan untuk mempunyai paling saling 30 pasangan data.
  2. Tentukan nilai-nilai maksimum dan minimum untuk kedua variabel x dan y. Buatlah skala pada sumbu horizontal dan vertikal dengan ukuran yang sesuai agar diagram akan menjadi lebih mudah untuk dibaca. Apabila kedua variabel yang akan dipelajari itu adalah karakteristik kualitas dan faktor yang mempengaruhinya, gunakan sumbu horizontal, x, untuk faktor yang mempengaruhi karakteristik kualitas dan sumbu vertikal, y, untuk karakteristik kualitas.
  3. Tebarkan (plot) data pada selembar kertas. Apabila dijumpai data bernilai sama dari pengamatan yang berbeda, gambarkan titik-titik itu seperti lingkaran konsentris (.), atau plot titik kedua yang bernilai sama itu disekitar titik pertama.
  4. Berikan informasi secukupnya agar orang lain dapat memahami diagram tebar itu. Informasi yang biasa diberikan adalah :Interval waktuBanyaknya pasangan data (n), Judul dan unit pengukuran dari setiap variabel pada garis horizontal dan vertikal, Judul dari grafik itu, Apabila dipandang perlu dapat mencantumkan nama dari orang yang membuat diagram tebar itu.

1.2.7 Bentuk Diagram Scatter




1.2.8 Membaca Diagram Scatter




  1. Korelasi Positif Kuat
  2. Korelasi Positif Lemah
  3. Korelasi Negatif Kuat
  4. Korelasi Negatif Lemah
  5. Tanpa Korelasi

Stepped Area Chart




1.3.1 Tujuan Penggunaan Stepped Area Chart


  1. Untuk menampilkan perubahan data atau harga dalam sebuah proses kenaikan atau penurunan harga. Data akan di gambarkan pada stepped chart berdasarkan perubahan yang terjadi bukan berdasarkan pada range waktu.
  2. Untuk membuat perkembangan langkah kemajuan.
  3. Jenis daerah visualisasi berguna ketika menyoroti kenaikan atau penurunan nilai dari waktu ke waktu.

1.3.2 Jenis - jenis Stepped Area Chart

1.3.2.1 Stepped Area Tunggal



1.3.2.2 Stepped Area Majemuk




1.3.2.3 Stepped Area Dasar






1.3.2.4 Stepped Chart Bertumpuk




<html>
<head>
<title>Google Charts Tutorial</title>
   <script type="text/javascript" src="https://www.gstatic.com
/charts/loader.js"></script>
   <script type="text/javascript" src="https://www.google.com
/jsapi"></script>
   <script type="text/javascript">
     google.charts.load('current', {packages: ['corechart']});
        </script>
</head>
<body>
<div id="container" style="width: 550px; height: 400px; 
margin: 0 auto"></div>
<script language="JavaScript">
function drawChart() {
   // Define the chart to be drawn.
   var data = google.visualization.arrayToDataTable([
      ['Director (Year)',  'Rotten Tomatoes', 'IMDB'],
      ['Alfred Hitchcock (1935)', 8.4,         7.9],
      ['Ralph Thomas (1959)',     6.9,         6.5],
      ['Don Sharp (1978)',        6.5,         6.4],
      ['James Hawes (2008)',      4.4,         6.2]
   ]);

   var options = {
      title: 'The decline of \'The 39 Steps\'',
      vAxis: {title: 'Accumulated Rating'},
      isStacked: true
         };
 
   // Instantiate and draw the chart.
   var chart = new google.visualization.SteppedAreaChart
(document.getElementById('container'));
   chart.draw(data, options);
}
google.charts.setOnLoadCallback(drawChart);
</script>
</body>
</html>


1.3.2.5 100% Stepped Chart Bertumpuk




<html>
<head>
<title>Google Charts Tutorial</title>
   <script type="text/javascript" src="https://www.gstatic.com
/charts/loader.js"></script>
   <script type="text/javascript" src="https://www.google.com
/jsapi"></script>
   <script type="text/javascript">
     google.charts.load('current', {packages: ['corechart']});
        </script>
</head>
<body>
<div id="container" style="width: 550px; height: 400px; 
margin: 0 auto"></div>
<script language="JavaScript">
function drawChart() {
   // Define the chart to be drawn.
   var data = google.visualization.arrayToDataTable([
      ['Director (Year)',  'Rotten Tomatoes', 'IMDB'],
      ['Alfred Hitchcock (1935)', 8.4,         7.9],
      ['Ralph Thomas (1959)',     6.9,         6.5],
      ['Don Sharp (1978)',        6.5,         6.4],
      ['James Hawes (2008)',      4.4,         6.2]
   ]);

   var options = {
      title: 'The decline of \'The 39 Steps\'',
      vAxis: {title: 'Accumulated Rating'},isStacked: 'percent'
         };
 
   // Instantiate and draw the chart.
   var chart = new google.visualization.SteppedAreaChart
(document.getElementById('container'));
   chart.draw(data, options);
} google.charts.setOnLoadCallback(drawChart);
</script>
</body>
</html>


1.3.3 Langkah Pembuatan Stepped Area Chart



1.3.4 Fungsi Stepped Area Chart

Tidak ada komentar:

Posting Komentar